Tentu sudah bukan rahasia umum bahwa dua sejoli inilah yang telah melahirkan para militan ekst
rimis
seperti Al-Qaida, ISIS, FSA dan lain-lain. Sebagaimana tugas seorang
papa, tugas paparabia adalah sebagai penyandang dana, yang membiayai,
menghidupi, terutama memberi "jajan", apalagi "duit" papa itu memang
luar biasa banyak, wajar saja karena profesi papa ini sebagai bandar
minyak. (bukan minyak tawon tentunya)
Begitupun dengan tugas seorang mama, tugas mamarika adalah menyiapkan
ide, mendidik dan melindungi anak-anaknya itu (para ekstrimis),
maklumlah, namanya juga seorang mama, kamu tahulah bagaimana hebatnya
seorang mama dalam mendidik dan melindungi anak-anaknya.
Maka
tumbuh besarlah anak-anak dua sejoli ini, namun seiring dengan tumbuh
kembangnya si anak (entah apa yang mereka makan atau salah didikan), ada
sifat-sifat dan karakter aneh yang menyertai pertumbuhannya. Ia
cenderung kaku, suka memaksakan kehendak, bengis, fanatik dan berdarah
dingin. Dimanapun ia berpijak, selalu saja membuat masalah, selalu
melakukan tindak kekerasan, makar, dan memaksakan kehendak kepada
orang-orang disekitarnya, ia tidak segan-segan mem-bom, bahkan
menyembelih orang-orang yang tidak mau menuruti kehendaknya.
Oh
iya, dalam beragama, anak-anak dua sejoli ini mengaku sebagai pemeluk
agama papa-nya. Dalam penerapan keagamaannya juga aneh, kaku dan sangat
fanatik. Selain memaksakan kehendak untuk mendirikan negara "islam"
versi mereka. Sebentar-sebentar orang dituding kafir, sebentar-sebentar
orang dituding musyrik, sebentar-sebentar orang dituding Bid'ah,
sebentar-sebentar orang dituding khurafat dan tahayul. (Mudah-mudahan
hidup mereka juga hanya sebentar-sebentar..
#eehh).
Perkembangan anak dua sejoli ini lumayan pesat, mereka sudah tersebar
dimana-mana, bahkan di Indonesia. Mereka telah memproklamirkan diri
mereka bahwa mereka telah hadir di negeri kita tercinta. Meskipun di
sini jumlah mereka masih sedikit, tetapi mereka terus bekerja, mereka
melakukakan 'Brain Washing' kepada para pemuda dan pemudi kita melalui
majlis-majlis ta'lim, pengajian, pesantren dan tentunya lewat
media-media mereka.
Ciri-ciri mereka sebenarnya mudah kita
kenali, selain suka menuding orang dengan tuduhan kafir, musyrik, bid'ah
dan lain-lain, mereka senang menampilkan berita kekejian dan kebiadaban
(pemboman, penyembelihan dll) yang dilakukan kelompok mereka, yang
mereka anggap sebagai kemenangan. Mereka juga sangat gemar mengadu domba
antara sesama muslim, mengadu domba antara muslim dengan non muslim,
bahkan mengadu domba antara rakyat dengan pemerintah. Hobby mereka
memprovokasi dan bila terjadi chaos, maka mereka akan segera mengambil
kesempatan dalam kesempitan, karena 'papa' dan 'mama' siap membantu
mereka.
Lantas bagaimana kita menyikapinya? Tentunya dengan
mempererat tali persaudaraan diantara kita, apapun agama, mazhab, suku
dan ras, karena kita satu bangsa dan negara. Menjaga toleransi dan
saling menghargai agar tidak mudah terprovokasi, meningkatkan
kewaspadaan terhadap keamanan lingkungan dan masyarakat.
"Aksi
terorisme bisa terjadi bukan saja karena ada niat si pelaku, tetapi aksi
terorisme juga bisa terjadi karena ada kesempatan… Waspadalah,
waspadalah, waspadalah !!
#AliValentino – #Alvin