Wejangan Wali Allah

Angel pratingkahe urip, sanadyan ahliya kitab, ahli suluk ahli pikir, lamun ora puruhita, tatane kurang prêmati.

Sangat sulit memahami rahasia hidup, walaupun ahli kitab, ahli suluk dan ahli fikir, apabila tidak berguru, pemahamannya kurang benar.

#Kangjeng_Sunan_Gunungjati
, ,

DALILNYA INDONESIA WARNING WAHABY ....... !!!

DALILNYA INDONESIA WARNING WAHABY ....... !!!
فعليكم  معشر المؤمنين بإتباع الفرقة الناجية المسماة بأهل السنة والجماعة فإن نصرة الله وحفظه وتوفقه في موافقتهم وخذ لأنه وسخطه ومقته في مخالفتهم وهذه الطائفة الناجية قد اجتمعت اليوم في مذاهب اربعة وهم الحنفيون والمالكيون والشافعيون والحنبليون رحمهم الله ومن كان خارجا عن هذه الأربعة في هذه الزمان فهو من اهل البدعة والنار
.
المنحة الوهابية ص ١
.
Wahai Para Kaum Yang Ber Iman Tetaplah Senantiasa Mengikuti Mengikuti  Firqoh Annajiyah Yang Bernama AHLUSSUNNAH WAL-JAMA'AH Karna Pertolongan , Penjagaan , Serta Taufiqnya Allah Akan Senantiasa Bersama Orang Yang Sesuai Dengan Jalan nya (Aswaja) Dan Berpeganglah Pada (Aswaja) Karna Murka Allah Bagi Orang Yang Berpaling Darinya
.
Dan  Ahlus Sunnah Waljama'ah Pada Zaman Masa Kini Terkumpul Dalam Madzhab Yang 4
.
Yaitu :
.
Madzhab Hanafi
Madzhab Maliki
Madzhab Syafi'i
Madzhab Hambali
.
Semoga Allah Merahmatinya
.
"Dan Barang Siapa Yang Ajaran nya Keluar Dari Madzhab Yang 4 Ini Di zaman Sekarang ini (Ahir Zaman) Maka Dia Termasuk Ahli Bid'ah Dan Neraka
.
Na'udzubillahi Min Dzalik
.
Reff - Kitab Al-Minhatul Wahabyah Hal 1
.
NB - Kenapa Kok Harus Ikut Madzhab ?
.
Karna Paham Imam Madzhab Satu-Satunya Ajaran Yang Paling Sesuai Dengan Al-quran Dan Hadits Karna Ulama' Madzhab Adalah Ulama' Salafus Sholeh Sejati Bukan Ulama' Abal-Abal Seperti Ulama'nya Wahaby Yang Statusnya Muta'akhirin.
,

Suasana Alam Kubur Secara Ilmiyah


~Malam Pertama~ Setelah Dikuburkan
Pembusukan berawal pada bagian perut & kemaluan..

Subhanallah...urusan perut & kemaluan adalah 2 hal terpenting yang anak cucu adam saling berebut & menjaganya di dunia..

Setelah itu..

Jasad akan mulai berubah menjadi hijau kehitaman..

Setelah berbagai pesolekan & alat" kecantikan semasa hidup di dunia..

Setelah meninggal dunia, manusia hanya akan memiliki 1 warna saja..

~Malam Kedua~
Anggota" tubuh yang lain seperti limpa, hati & paru" akan mulai membusuk..

~Hari Ketiga~
Anggota" tubuh mulai mengeluarkan bau busuk yang sangat tajam..

~Setelah Seminggu~
Wajah & mata mulai membengkak..

~Setelah 10 Hari~
Tetap terjadi proses pembusukan pada anggota" tubuh..

~Setelah 2 Minggu~
Rambut mulai gugur dan lalat hijau mulai mencium bau busuk dari jarak 5km serta ulat"pun mulai menutupi seluruh tubuh..

~Setelah 6 Minggu~
Semua anggota tubuh sudah habis dimakan ulat" yang tertinggal cuma tinggal tulang belulang saja..

~Setelah 25 Tahun~
Rangka tubuh akan berubah menjadi semacam biji & di dalam biji tersebut berupa tulang yang sangat kecil yang disebut 'ajbudz dzanab' (tulang ekor)..

Dari tulang inilah kita akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT kelak di Hari Kiamat..

Sahabat yang dirahmati Allah SWT, begitulah tubuh yang selama ini kita rawat..

Inilah tubuh yang selalu ingkar kepada Allah SWT..

Oleh karena itu, jangan biarkan umur & jasad kita dalam keadaan sia"..

Janji Allah SWT adalah Benar..

Ya Allah..tetapkanlah hati (ikhsan) kami di atas AgamaMu..

Ya Allah..jadikanlah kuburan kami kelak sebagai 1 taman dari Taman" Syurga (Riyadhul Jannah) & jangan jadikan sebagai 1 lubang dari Lubang" Api Neraka..

Ãαmîîη..

Aku berdo'a..mari aamiinkan..

Yaa ﺍَﻟﻠّﻪُ ..
Muliakanlah kami, lapangkanlah hati kami, bahagiakanlah keluarga kami serta luaskanlah rezeki kami, mudahkanlah segala urusan kami..
Kabulkanlah cita" kami, jauhkan kami dari segala hal" buruk serta terimalah amal ibadah kami..

Ãαmîîη..


~Nasihat Kubur~

Aku adalah tempat yang paling gelap diantara yang gelap, maka terangilah aku dengan Qiyamullail..

Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan Tali Silaturahmi..

Aku adalah tempat yang paling sepi, maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca Al-Qur'an..

Aku adalah tempatnya hewan" yang menjijikkan, maka racunilah mereka dengan Amal Jariyah (shodaqoh)..

Aku yang menyempitmu hingga hancur, maka bebaskanlah sempitan itu dengan Shalat..

Aku adalah tempat untuk merendam dengan cairan yang teramat menyakitkan, maka bebaskanlah rendaman itu dengan Puasa..

Aku adalah tempat Malaikat Munkar & Nakir bertanya, maka persiapkanlah jawabanmu dengan kalimat dzikir Tasbih (SubhaanallaaH), Tahmid (Alhamdulillaah), Takbir (AllaaHuakbar), Tahlil (Laa ilaaHa illallaaH) serta Istighfar (AstaghfirullaaHal 'adziim)..
,

Paparabia dan Mamarika Dua Sejoli yang Melahirkan Para Ekstrimis



Tentu sudah bukan rahasia umum bahwa dua sejoli inilah yang telah melahirkan para militan ekstrimis seperti Al-Qaida, ISIS, FSA dan lain-lain. Sebagaimana tugas seorang papa, tugas paparabia adalah sebagai penyandang dana, yang membiayai, menghidupi, terutama memberi "jajan", apalagi "duit" papa itu memang luar biasa banyak, wajar saja karena profesi papa ini sebagai bandar minyak. (bukan minyak tawon tentunya)
Begitupun dengan tugas seorang mama, tugas mamarika adalah menyiapkan ide, mendidik dan melindungi anak-anaknya itu (para ekstrimis), maklumlah, namanya juga seorang mama, kamu tahulah bagaimana hebatnya seorang mama dalam mendidik dan melindungi anak-anaknya.

Maka tumbuh besarlah anak-anak dua sejoli ini, namun seiring dengan tumbuh kembangnya si anak (entah apa yang mereka makan atau salah didikan), ada sifat-sifat dan karakter aneh yang menyertai pertumbuhannya. Ia cenderung kaku, suka memaksakan kehendak, bengis, fanatik dan berdarah dingin. Dimanapun ia berpijak, selalu saja membuat masalah, selalu melakukan tindak kekerasan, makar, dan memaksakan kehendak kepada orang-orang disekitarnya, ia tidak segan-segan mem-bom, bahkan menyembelih orang-orang yang tidak mau menuruti kehendaknya.

Oh iya, dalam beragama, anak-anak dua sejoli ini mengaku sebagai pemeluk agama papa-nya. Dalam penerapan keagamaannya juga aneh, kaku dan sangat fanatik. Selain memaksakan kehendak untuk mendirikan negara "islam" versi mereka. Sebentar-sebentar orang dituding kafir, sebentar-sebentar orang dituding musyrik, sebentar-sebentar orang dituding Bid'ah, sebentar-sebentar orang dituding khurafat dan tahayul. (Mudah-mudahan hidup mereka juga hanya sebentar-sebentar.. ‪#‎eehh‬).

Perkembangan anak dua sejoli ini lumayan pesat, mereka sudah tersebar dimana-mana, bahkan di Indonesia. Mereka telah memproklamirkan diri mereka bahwa mereka telah hadir di negeri kita tercinta. Meskipun di sini jumlah mereka masih sedikit, tetapi mereka terus bekerja, mereka melakukakan 'Brain Washing' kepada para pemuda dan pemudi kita melalui majlis-majlis ta'lim, pengajian, pesantren dan tentunya lewat media-media mereka.

Ciri-ciri mereka sebenarnya mudah kita kenali, selain suka menuding orang dengan tuduhan kafir, musyrik, bid'ah dan lain-lain, mereka senang menampilkan berita kekejian dan kebiadaban (pemboman, penyembelihan dll) yang dilakukan kelompok mereka, yang mereka anggap sebagai kemenangan. Mereka juga sangat gemar mengadu domba antara sesama muslim, mengadu domba antara muslim dengan non muslim, bahkan mengadu domba antara rakyat dengan pemerintah. Hobby mereka memprovokasi dan bila terjadi chaos, maka mereka akan segera mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena 'papa' dan 'mama' siap membantu mereka.

Lantas bagaimana kita menyikapinya? Tentunya dengan mempererat tali persaudaraan diantara kita, apapun agama, mazhab, suku dan ras, karena kita satu bangsa dan negara. Menjaga toleransi dan saling menghargai agar tidak mudah terprovokasi, meningkatkan kewaspadaan terhadap keamanan lingkungan dan masyarakat.

"Aksi terorisme bisa terjadi bukan saja karena ada niat si pelaku, tetapi aksi terorisme juga bisa terjadi karena ada kesempatan… Waspadalah, waspadalah, waspadalah !!

#AliValentino – #Alvin

Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Menurut Imam Syafi'i

Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)
Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Ma’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekali peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Ketika kami keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.
Berkata Al- Hasan bin As-shabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !
Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

AS-SYEKH ABDUL QODIR AL-JAELANI

"SEBAHAGIAN KECIL DARI MANAQIB / BIOGRAFI - SULTHONUL AULIYA AS-SAYYID AS-SYEKH ABDUL QADIR AL-JAELANI R.A"
Syekh Abdul Qadir al-Jaelani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahun oleh umat Islam Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karomahnya dibandingkan ajaran spiritualnya.
Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban / baca Manaqib.
Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al- Jaylani. Al-Jaylani merupakan penisbatan pada Jailan, daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain Jailan, tempat ini disebut juga dengan Jaylan dan Kilan.
NASAB BELIAU
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Sayyidina Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Sayyidina Ali ra dan Fatimah r.a., puteri tercinta Rasul.
Ibu beliau adalah puteri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Sayyidina Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah.
Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasaniyin sekaligus Huseiniyin.
MASA MUDA BELIAU
Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan riyadhoh agar lebih baik, apa yang disebut ‘pengalaman-pengalaman mistik’. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan keghairahan untuk bersama para orang saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban.
Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-A’dzam atau wali Ghauts terbesar. Dalam terminologi kaum sufi, seorang Ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama’ besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur’an bagi orang semacam itu.
Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.
Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusta dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut. Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin.
Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab:
“Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku.”
Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.
Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.
Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.
BELIAU BELAJAR DI BAGHDAD
Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya.
Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah*). Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan.
Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan ber'majelis dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.
Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua itu sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.
LATIHAN-LATIHAN RUHANIAH BELIAU
Setelah menyelesaikan studinya, ia kian keras terhadap diri. Ia mulai mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada shalat dan membaca Qur’an suci.
Shalat sedemikian menyita waktunya, sehingga sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi, karena belum batal. Diriwayatkan pula, beliau kerapkali khatam membaca Al-Qur’an dalam satu malam.
Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia, sehingga ia tak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan, ia berkeliling padang pasir. Akhirnya ia tinggalkan Baghdad, dan menetap di Syustar, dua belas hari perjalanan dari Baghdad.
Selama sebelas tahun, ia menutup diri dari dunia. Akhir masa ini menandai berakhirnya latihannya. Ia menerima nur yang dicarinya. Diri-hewaninya kini telah digantikan oleh wujud mulianya.
BELIAU DICOBA IBLIS
Suatu peristiwa terjadi pada malam babak baru ini, yang diriwayatkan dalam bentuk sebuah kisah. Kisah-kisah serupa dinisbahkan kepada semua tokoh keagamaan yang dikenal di dalam sejarah; yakni sebuah kisah tentang penggodaan.
Semua kisah semacam itu memaparkan secara perlambang, suatu peristiwa alamiah dalam kehidupan. Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda oleh Iblis, yang membawanya ke puncak bukit dan dari sana memperlihatkan kepadanya kerajaan- kerajaan duniawi, dan dimintanya nabi Isa A.S menyembahnya, bila ingin menjadi raja dari kerajaan-kerajaan itu.
Kita tahu jawaban beliau, sebagai pemimpin ruhaniah. Yang kita tahu, hal itu merupakan suatu peristiwa perjuangan jiwa sang pemimpin dalam hidupnya. Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Kala beliau kukuh berdakwah menentang praktek-praktek keberhalaan masyarakat dan musuh- musuh beliau, para pemimpin Quraisy merayunya dengan kecantikan, harta dan tahta.
Dan tak seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban beliau:
“Aku sama sekali tak menginginkan harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang Nadzir**) bagi umat manusia, menyampaikan risalah- Nya kepada kalian. Jika kalian menerimanya, maka kalian akan bahagia di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan jika kalian menolak, tentu Allah akan menentukan antara kalian dan aku.”
Begitulah gambaran dari hal ini, dan merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi. Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi kisah tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani.
- Versi pertama mengisahkan, bahwa suatu hari Iblis menghadapnya, memperkenalkan diri sebagai Jibril, dan berkata bahwa ia membawa Buraq dari Allah, yang mengundangnya untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.
Sang Syaikh segera menjawab bahwa si pembicara tak lain adalah si Iblis, karena baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad saw.
Iblis pun masih punya cara lain, katanya:
“Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu.”
“Enyahlah!, bentak sang wali.”
Jangan kau goda aku. Bukan karena ilmuku, tapi karena rahmat Allahlah aku selamat dari perangkapmu”.
- Versi kedua mengisahkan, ketika sang Syaikh sedang berada di rimba belantara, tanpa makanan dan minuman, untuk waktu yang lama, awan menggumpal di angkasa, dan turunlah hujan. Sang Syaikh meredakan dahaganya.
Muncullah sosok terang di cakrawala dan berseru :
“Akulah Tuhanmu, kini Kuhalalkan bagimu segala yang haram.”
Sang Syaikh berucap:
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Sosok itu pun segera pergi berubah menjadi awan, dan terdengar berkata :
“Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari tipuanku.”
Lalu setan bertanya tentang kesigapan sang Syaikh dalam mengenalinya. Sang Syaikh menyahut bahwa pernyataannya menghalalkan segala yang haramlah yang membuatnya tahu, sebab pernyataan semacam itu tentu bukan dari Allah.
Subhanallah..!
Kedua versi ini benar, yang menyajikan dua peristiwa berlainan secara perlambang. Satu peristiwa dikaitkan dengan perjuangannya melawan kebanggaan akan ilmu. Yang lain dikaitkan dengan perjuangannya melawan kesulitan-kesulitan ekonomi, yang menghalangi seseorang dalam perjalanan ruhaniahnya.
Kesadaran akan kekuatan dan kecemasan akan kesenangan merupakan kelemahan terakhir yang mesti enyah dari benak seorang shalih. Dan setelah berhasil mengatasi dua musuh abadi ruhani inilah, maka orang layak menjadi pemimpin sejati manusia.
BELIAU MENJADI PANUTAN MASYARAKAT
Kini sang Syaikh telah lulus dari ujian- ujian tersebut. Maka semua tutur kata atau tegurannya, tak lagi berasal dari nalar, tetapi berasal dari ruhaninya. Kala ia memperoleh ilham, sebagaimana sang Syaikh sendiri ingin menyampaikannya, keyakinan Islami melemah. Sebagian muslim terlena dalam pemuasan jasmani, dan sebagian lagi puas dengan ritus-ritus dan upacara - upacara keagamaan.
Semangat keagamaan tak dapat ditemui lagi. Pada saat ini, ia mempunyai mimpi penting tentang masalah ini. Ia melihat dalam mimpi itu, seolah-olah sedang menelusuri sebuah jalan di Baghdad, yang di situ seorang kurus kering sedang berbaring di sisi jalan, menyalaminya. Ketika sang Syaikh menjawab ucapan salamnya, orang itu memintanya untuk membantunya duduk. Begitu beliau membantunya, orang itu duduk dengan tegap, dan secara menakjubkan tubuhnya menjadi besar. Melihat sang Syaikh terperanjat, orang asing itu menentramkannya dengan kata-kata :
”Akulah agama kakekmu, aku menjadi sakit dan sengsara, tetapi Allah telah menyehatkanku kembali melalui bantuanmu.”
Ini terjadi pada malam penampilannya di depan umum di masjid, dan menunjukkan karir mendatang sang wali. Kemudian masyarakat tercerahkan, menamainya Muhyiddin, ‘pembangkit keimanan’, gelar yang kemudian dipandang sebagai bagian dari namanya yang termasyhur.
Meski telah ia tinggalkan kesendiriannya (uzlah), ia tak jua berkhutbah di depan umum. Selama sebelas tahun berikutnya, ia mukim di sebuah sudut kota, dan meneruskan praktek-praktek peribadatan, yang kian mempercerah ruhaniyah.
KEHIDUPAN RUMAH TANGGA BELIAU
Menarik untuk dicatat, bahwa penampilannya di depan umum selaras dengan kehidupan perkawinannya. Sampai tahun 521 H, yakni pada usia kelima puluh satu, ia tak pernah berpikir tentang perkawinannya. Bahkan ia menganggapnya sebagai penghambat upaya ruhaniyahnya. Tetapi, begitu beliau berhubungan dengan orang-orang, demi mematuhi perintah Rasul dan mengikuti Sunnahnya, ia pun menikahi empat wanita, semuanya shaleh dan taat kepadanya.
Ia mempunyai empat puluh sembilan anak – dua puluh putra, dan yang lainnya putri.
Empat putranya yang termasyhur akan kecendekian dan kepakarannya, adalah :
- Syaikh Abdul Wahab, putera tertua adalah seorang alim besar, dan mengelola madrasah ayahnya pada tahun 543 H. Sesudah sang wali wafat, ia juga berkhutbah dan menyumbangkan buah pikirannya, berkenaan dengan masalah- masalah syariat Islam. Ia juga memimpin sebuah kantor negara, dan demikian termasyhur.
- Syaikh Isa, ia adalah seorang guru hadits dan seorang hakim besar. Dikenal juga sebagai seorang penyair. Ia adalah seorang khatib yang baik, dan juga Sufi. Ia mukim di Mesir, hingga akhir hayatnya.
- Syaikh Abdul Razaq. Ia adalah seorang alim, sekaligus penghafal hadits. Sebagaimana ayahnya, ia terkenal taqwa. Ia mewarisi beberapa kecenderungan spiritual ayahnya, dan sedemikian masyhur di Baghdad, sebagaimana ayahnya.
- Syaikh Musa. Ia adalah seorang alim terkenal. Ia hijrah ke Damaskus, hingga wafat.
Tujuh puluh delapan wacana sang wali sampai kepada kita melalui Syaikh Isa. Dua wacana terakhir, yang memaparkan saat-saat terakhir sang wali, diriwayatkan oleh Syaikh Wahab. Syaikh Musa termaktub pada wacana ke tujuh puluh sembilan dan delapan puluh. Pada dua wacana terakhir nanti disebutkan, pembuatnya adalah Syaikh Abdul Razaq dan Syaikh Abdul Aziz, dua putra sang wali, dengan diimlakkan oleh sang wali pada saat-saat terakhirnya.
KESEHARIANNYA BELIAU
Sebagaimana telah kita saksikan, sang wali bertabligh tiga kali dalam seminggu. Di samping bertabligh setiap hari, pada pagi dan malam hari, ia mengajar tentang Tafsir Al Qur’an, Hadits, Ushul Fiqih, dan mata pelajaran lain. Sesudah Dhuhur, ia memberikan fatwa atas masalah-masalah hukum, yang diajukan kepadanya dari segenap penjuru dunia. Sore hari, sebelum sholat Maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah sholat Maghrib, ia selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebalum berbuka, ia menyilakan orang-orang yang butuh makanan di antara tetangga-tetangganya, untuk makan malam bersama.
Sesudah sholat Isya’, sebagaimana kebiasaan para wali, ia mengaso di kamarnya, dan melakukan sebagian besar waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah – suatu amalan yang dianjurkan Qur’an Suci.
Sebagai pengikut sejati Nabi, ia curahkan seluruh waktunya di siang hari, untuk mengabdi ummat manusia, dan sebagian besar waktu malam dihabiskan untuk mengabdi Penciptanya. Pengaruh dan Karya Waktunya banyak diisi dengan menagajar dan bertausyiah. Hal ini membuat Syekh tidak memiliki cukup waktu untuk menulis dan mengarang. Bahkan, bisa jadi beliau tidak begitu tertarik di bidang ini. Pada tiap disiplin ilmu, karya-karya Islam sudah tidak bisa dihitung lagi. Bahkan, sepertinya perpustakaan tidak butuh lagi diisi buku baru. Yang dibutuhkan masyarakat justru saran seorang yang bisa meluruskan yang bengkok dan membenahi kesalahan masyarakat saat itu.
Inilah yang memanggil suara hati Syekh. Ini pula yang menjelaskan pada kita mengapa tidak banyak karya yang ditulis Syekh. Memang ada banyak buku dan artikel yang diklaim sebagai tulisannya. Namun, yang disepakati sebagai karya syekh hanya ada tiga :
1. Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq merupakan karyanya yang mengingatkan kita dengan karya monumental al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al- Din. Karya ini jelas sekali terpengaruh, baik tema maupun gaya bahasanya, dengan karya al-Ghazali itu. Ini terlihat dengan penggabungan fikih, akhlak, dan
prinsip suluk. Ia memulai dengan membincangkan aspek ibadah, dilanjutkan dengan etika Islam, etika doa, keistimewaan hari dan bulan tertentu. Ia kemudian membincangkan juga anjuran beribadah sunah, lalu etika seorang pelajar, tawakal, dan akhlak yang baik.
2. Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al- Rahmani merupakan bentuk tertulis ( transkripsi ) dari kumpulan tausiah yang pernah disampaikan Syekh. Tiap satu pertemuan menjadi satu tema. Semua pertemuan yang dibukukan ada 62 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada 3 Syawal 545 H. Pertemuan terakhir pada hari Jumat, awal Rajab 546 H. Jumlah halamannya mencapai 90 halaman. Format buku ini mirip dengan format pengajian Syekh dalam berbagai majelisnya. Sebagiannya bahkan berisi jawaban atas persoalan yang muncul pada forum pengajian itu.
3. Futuh al-Ghayb merupakan kompilasi dari 78 artikel yang ditulis Syekh berkaitan dengan suluk, akhlak, dan yang lain. Tema dan gaya bahasanya sama dengan al-Fath al-Rabbani. Keseluruhan halamannya mencapai 212 halaman. Buku ini sendiri sebetulnya hanya 129 halaman. Sisa halamannya diisi dengan himpunan senandung pujian yang dinisbatkan pada Syekh.
Kesaksian Ulama Syekh Junaid al-Baghdadi, hidup 200 tahun sebelum kelahiran Syekh Abdul Qadir. Namun, pada saat itu ia telah meramalkan akan kedatangan Syekh Abdul Qadir Jailani.
Suatu ketika Syekh Junaid al-Baghdadi sedang bertafakur, tiba-tiba dalam keadaan antara sadar dan tidak, ia berkata,
“Kakinya ada di atas pundakku! Kakinya ada di atas pundakku!”
Setelah ia tenang kembali, murid- muridnya menanyakan apa maksud ucapan beliau itu. Kata Syekh Junaid al- Baghdadi,
“Aku diberitahukan bahwa kelak akan lahir seorang wali besar, namanya adalah Abdul Qadir yang bergelar Muhyiddin. Dan pada saatnya kelak, atas kehendak Allah, ia akan mengatakan, ‘Kakiku ada di atas pundak para Wali.”
Syekh Abu Bakar ibn Hawara, juga hidup sebelum masa Syekh Abdul Qadir. Ia adalah salah seorang ulama terkemuka di Baghdad. Konon, saat ia sedang mengajar di majelisnya, ia berkata:
“Ada 8 pilar agama (autad) di Irak, mereka itu adalah :
1) Syekh Ma’ruf al Karkhi, 
2) Imam Ahmad ibn Hanbal, 
3) Syekh Bisri al Hafi, 
4) Syekh Mansur ibn Amar, 
5) Syekh Junaid al-Baghdadi, 
6) Syekh Siri as-Saqoti, 
7) Syekh Abdullah at-Tustari, dan
8) Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Ketika mendengar hal itu, seorang muridnya yang bernama Syekh Muhammad ash-Shanbaki bertanya,
“Kami telah mendengar ke tujuh nama itu, tapi yang ke delapan kami belum mendengarnya. Siapakah Syekh Abdul Qadir Jailani?”
Maka Syekh Abu Bakar pun menjawab,
“Abdul Qadir adalah shalihin yang tidak terlahir di Arab, tetapi di Jaelan (Persia) dan akan menetap di Baghdad.”
Qutb al Irsyad Abdullah ibn Alawi al Haddad (1044-1132 H), dalam kitabnya Risalatul Mu’awanah menjelaskan tentang tawakkal, dan beliau memilih Syekh Abdul Qadir Jaylani sebagai suri- teladannya.
Seorang yang benar-benar tawakkal mempunyai 3 tanda.
Pertama, ia tidak takut ataupun mengharapkan sesuatu kepada selain Allah.
Kedua, hatinya tetap tenang dan bening, baik di saat ia membutuhkan sesuatu atau pun di saat kebutuhannnya itu telah terpenuhi.
Ketiga, hatinya tak pernah terganggu meskipun dalam situasi yang paling mengerikan sekalipun.
Suatu ketika beliau sedang berceramah di suatu majelis, tiba-tiba saja jatuh seekor ular berbisa yang sangat besar di atas tubuhnya sehingga membuat para hadirin menjadi panik. Ular itu membelit Syekh Abdul Qadir, lalu masuk ke lengan bajunya dan keluar lewat lengan baju yang lainnya. Sedangkan beliau tetap tenang dan tak gentar sedikit pun, bahkan beliau tak menghentikan ceramahnya.
Ini membuktikan bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani benar-benar seorang yang tawakkal dan memiliki karomah.
Ibnu Rajab juga berkata,
“Syekh Abdul Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang bagus dalam masalah tauhid, sifat- sifat Allah, takdir, dan ilmu-ilmu makrifat yang sesuai dengan sunnah. Beliau memiliki kitab Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, kitab yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab Futuhul Ghaib. Murid-muridnya mengumpulkan perkara-perkara yang banyak berkaitan dengan nasehat dari majelis-majelis beliau. Dalam masalah- masalah sifat, takdir dan lainnya, ia berpegang pada sunnah. “
Al-Dzahabi juga berkata,
“Tidak ada seorangpun para ulama besar yang riwayat hidup dan karamahnya lebih banyak kisah hikayat, selain Syekh Abdul Qadir Al Jailani, dan banyak di antara riwayat-riwayat itu yang tidak benar bahkan ada yang mustahil terjadi.”
WAFATNYA BELIAU

Syekh wafat setelah menderita sakit ringan dalam waktu tidak lama. Bahkan, ada yang mengatakan, Syekh sakit hanya
sehari—semalam.
Ia wafat pada malam Sabtu, 10 Rabiul Awal 561 H. Saat itu usianya sudah menginjak 90 tahun. Sepanjang usianya dihabiskan untuk berbuat baik, mengajar, dan bertausiah.
Konon, ketika hendak menemui ajal, putranya yang bernama ‘Abdul Wahhab memintanya untuk berwasiat.
Berikut isi wasiat itu :
“Bertakwalah kepada Allah. Taati Tuhanmu. Jangan takut dan jangan berharap pada selain Allah.
Serahkan semua kebutuhanmu pada Allah Azza wa Jalla.
Cari semua yang kamu butuhkan pada Allah. Jangan terlalu percaya ( dalam hal-hal yang tidak ada faedahnya ) pada selain Allah.
Bergantunglah hanya pada Allah. Bertauhidlah! Bertauhidlah! Bertauhidlah! Semua itu ada pada tauhid.
*Semoga dengan membacanya kita akan Manaqibnya Auliya Allah SWT, semakin menambah semangat kita untuk meneladani-nya. Dengan mengerja apa-apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya.
Aamiin Allahumma aamiin.

KETERANGAN FOTO : MAKAM SULTHONUL AULIYA ALLAH - AS-SYEKH ABDUL QODIR AL-JAELANI.

Source : https://goo.gl/eWXKfT